Minggu, 04 Mei 2014

Laporan Pendahuluan Fraktur Vertebra


A. Definisi 
Fraktur adalah diskontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan (R. Syamsuhidayat, 1997). Fraktur vertebra adalah terputusnya discus invertebralis yang berdekatan dan berbagai tingkat perpindahan fragmen tulang (Theodore, 1993). 

B. Etiologi 
Fraktur vertebra, khususnya vertebra servikalis dapat disebabkan oleh trauma hiperekstensi, hiperfleksi, ekstensi rotasi, fleksi rotasi, atau kompresi servikalis. Fraktur vertebra thorakal bagian atas dan tengah jarang terjadi, kecuali bila trauma berat atau ada osteoporosis. Karena kanalis spinal di daerah ini sempit, maka sering disertai gejala neurologis. Mekanisme trauma biasanya bersifat kompresi atau trauma langsung. Pada kompresi terjadi fraktur kompresi vertebra, tampak korpus vertebra berbentuk baji pada foto lateral. Pada trauma langsung dapat timbul fraktur pada elemen posterior vertebra, korpus vertebra dan iga di dekatnya. 

Fraktur dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu : 
1) Kecelakaan Kebanyakan fraktur terjadi karena kecelakaan lalu lintas 
2) Cidera olah raga Saat melakukan oleh raga yang berat tanpa pemanasan sehingga terjadi cidera olah raga yang menyebabkan fraktur 
3) Osteoporosis Lebih sering terjadi pada wanita usia di atas 45 tahun karena terjadi perubahan hormon menopause 
4) Malnutrisi Pada orang yang malnutrisi terjadi defsit kalsium pada tulang sehingga tulang rapuh dan sangat beresiko sekali terjadi fraktur 
5) Kecelekaan Kecerobohan di tempat kerja biasa terjadi, yang dapat menyebabkan fraktur. (Reeves, 2000) 

C. Patofisiologi 
Fraktur tulang belakang dapat terjadi di sepanjang kolumna bertebra tetapi lebih sering terjadi di daerah servikal bagian bawah dan di daerah lumbal bagian atas. Pada dislokasi akan tampak bahwa kanalis vertebralis di daerah dislokasi tersebut menjadi sempit, keadaan ini akan menimbulkan penekanan atau kompresi pada medulla spinalis atau rediks saraf spinalis. Dengan adanya penekanan atau kompresi yang berlangsung lama mengakibatkan jaringan terputus akibatnya daerah sekitar fraktur mengalami oedema / hematoma. 
Kompresi akibatnya sering menyebabkan iskemia otot. Gejala dan tanda yang menyertai peningkatan tekanan “compartmental” mencakup nyeri, kehilangan sensasi dan paralisis. Hilangnya tonjolan tulang yang normal, pemendekan atau pemanjangan tulang dan kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk (deformitas). Imobilisasi membentuk terapi awal pasien fraktur. Imobilisasi harus dicapai sebelum pasien ditransfer dan bila mungkin, bidai harus dijulurkan paling kurang satu sendi di atas dan di bawah tempat fraktur, dengan imobilisasi mengakibatkan sirkulasi darah menurun sehingga terjadi perubahan perfusi jaringan primer. (Markam, Soemarmo, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer, 2000) 

D. Pathway 
(Markam, Soemarno, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer 2000) 

E. Manifestasi Klinik 
1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi 
2) Deformitas adalah pergeseran fragmen pada fraktur 
3) Terjadi pemendekan tulang akibat kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur 4) Krepitus adalah derik tulang yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya 5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perubahan yang mengikuti fraktur. (Smeltzer, S, 2001) 

F. Komplikasi 
1) Infeksi 
2) Syok hipovolemik atau traumatic 
3) Sindrom emboli lemak 
4) Sindrom kompartemen 
5) Koagulasi intravaskuler diseminata (KID) (Smeltzer, S, 2001) 

G. Pemeriksaan Penunjang 
1) Foto Rontgen Spinal, yang memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang, atau tulang intervetebralis atau mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti tumor, osteomielitis. 
2) Elektromiografi, untuk melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal utama yang terkena. 
3) Venogram Epidural, yang dapat dilakukan di mana keakuratan dan miogram terbatas. 
4) Fungsi Lumbal, yang dapat mengkesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi adanya darah. 5) Tanda Le Seque (tes dengan mengangkat kaki lurus ke atas) untuk mendukung diagnosa awal dari herniasi discus intervertebralis ketika muncul nyeri pada kaki posterior. 
6) CT - Scan yang dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya protrusi discus intervetebralis. 
7) MRI, termasuk pemeriksaan non invasif yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat adanya herniasi discus. 
 8) Mielogram, hasilnya mungkin normal atau memperlihatkan “penyempitan” dari ruang discus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik. 

H. Penatalaksanaan 
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah tirah baring total disertai dengan fisioterapi. 

I. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 
1) Hambatan mobilitas fisik b.d ganggun musculoskeletal 

NOC: 
Menunjukkan tingkat mobilitas, ditandai dengan indikator berikut (ketergantungan(tidak berpartisipasi), membutuhkan bantuan orang lain dan alat, membutuhkan bantuan orang lain, mandiri dengan pertolongan alat bantu, atau mandiri penuh) 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
Pasien akan meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi, jika diperlukan 

NIC: 
Terapi aktivitas, ambulasi : meningkatkan dan membantu berjalan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi tubuh volunter dan autonom selama perawatan serta pemulihan dari sakit atau cedera 
Perubahan posisi : memindahkan pasien atau bagian tubuh untuk memberikan kenyamanan, menurunkan risiko kerusakan kulit, mendukung integritas kulit, dan meningkatkan penyembuhan 

Aktivitas Keperawatan: 
 - Ajarkan dan bantu pasien dalam proses perpindahan 
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu pasien akan meningkat kesembuhannya 
- Berikan penguatan positif selama aktivitas 
Rasional : Dengan penguatan positif pasien akan lebih mempunyai dorongan untuk beraktivitas 
- Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan aktivitas 
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu dapat menambah pengetahuan pasien tentang perpindahan yang benar 
- Kaji kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan 
Rasional : Dengan pengkajian itu dapat mengetahui kemampuan pasien tentang kesehatan 
- Awasi seluruh kegiatan mobilisasi dan bantu pasien, jika diperlukan 
Rasional : Agar tidak terjadi cedera pada pasien 
- Berikan analgesik sebelum memulai aktivitas 
Rasional : Mengurangi nyeri yang bisa terjadi selama pasien beraktivitas 
- Dukung pasien/keluarga untuk memandang keterbatasan dengan realistis 
Rasional : Dengan dukungan itu pasien/keluarga akan menerima dengan ikhlas 
- Letakkan tempat tidur terapeutik yang benar 
Rasional : hal yang mendukung mobilisasi pasien 
- Dukung latihan ROM aktif 
Rasional : dengan latihan itu mempercepat kesembuhan pasien khususnya dalam pergerakan sendi 
- Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal 2 jam, berdasarkan jadwal spesifik 
Rasional : membuat pasien nyaman dengan perubahan posisi 

2) Nyeri akut/kronis b.d agen cidera: fisik 

NOC: 
- Tingkat kenyamanan perasaan senang secara fisik & psikologis 
- Prilaku mengendalikan nyeri 
- Nyeri: efek merusak terhadap emosi dan prilaku yang diamati 
- Tingkat nyeri: jumlah nyeri yang dilaporkan 

Kriteria evaluasi: 
 - Menunjukkan nyeri efek merusak dengan skala 1-5: ekstrim, berat, sedang, ringan, atau tidak ada 
- Menunjukkan teknik relaksasi secara individu yang efektif 
- Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri. 

NIC: 
- Pemberian analgesik 
- Sedasi sadar 
- Penatalaksanaan nyeri 
- Bantuan Analgesika yang Dikendalikan oleh Pasien 

Aktivitas keperawatan: 
- Minta pasien untuk menilai nyeri/ ketidaknyamanan pada skala 0 sampai 10 
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif 
- Observasi isyarat ketidak nyamanan nonverbal 

3) Gangguan identitas personal b.d perubahan peran social 

NOC: Gangguan identitas personal berkurang 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
- Pasien akan mengaku terhadap perubahan aktual pada penampilan tubuh 
- Pasien akan memelihara hubungan sosial yang dekat dan hubungan personal 

NIC: 
Pencapaian Citra Tubuh : peningkatan kesadaran pasien dan ketidaksadaran persepsi dan tingkah laku terhadap tubuh pasien 
Aktivitas Keperawatan: 
- Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal pasien tentang tubuh pasien 
Rasional : Dengan mengkaji dapat mengetahui respon yang dirasakan pasien 
- Tentukan apakah perubahan fisik saat ini telah dikaitkan ke dalam citra tubuh pasien 
Rasional : Dengan menentukan hal itu dapat mengetahui perubahan apa yang terjadi pada pasien 
- Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia dari orang penting bagi pasien menyangkut citra tubuh 
Rasional : Dengan identifikasi dapat mengetahui apa yang dirasakan pasien 
- Pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri 
Rasional : mengetahui seberapa besar pasien menghargai dirinya 
- Beri dorongan kepada pasien/keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan 
Rasional : Akan membantu pasien/keluarga mengidentifikasi mekanisme yang terjadi 
- Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan martabat pasien
Rasional : Dengan cara itu pasien akan merasa terjaga privasinya 
- Tentukan harapan pasien tentang gambaran tubuh berdasarkan tahap perkembangan 
Rasional : Dengan tahu harapan pasien akan dapat mengetahui apa yang diinginkan pasien 
- Dengarkan pasien/keluarga secara aktif dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan, dan prognosis 
Rasional : Dengan menjadi pendengar yang baik dapat membina trust 

4) Ansietas b.d perubahan dalam: status kesehatan 

NOC: 
Kontrol Agresi: Kemampuan untuk menahan perilaku kekerasan, kekacauan, atau perilaku destruktif pada orang lain. 
Kontrol Ansietas: Kemampuan untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir dan tegang dari suatu sumber yang tidak dapat diidentifikasi. 
Koping: Tindakan untuk mengatasi stressor yang membebani sumber-sumber individu. 
Kontrol Impuls: Kemampuan untuk menahan diri dari perilaku kompulsif atau impulsive. 
Penahanan Mutilasi Diri: Kemampuan untuk berhenti dari tindakan yang mengakibatkan cedera diri sendiri (non-letal) yang tidak diperhatikan. 
Keterampilan Interaksi Sosial: Penggunaan diri untuk melakukan interaksi yang efektif. 
 
Tuuan/Kriteria Hasil: 
- Ansietas berkurang 
- Menunjukkan Kontrol Ansietas 

NIC: Pengurangan Ansietas: Minimalkan kekhawatiran, ketakutan, berprasangka atau rasa gelisah yang dikaitkan dengan sumber bahaya yang tidak dapat diidentifikasi dari bahaya yang dapat diantisipasi. 

Aktivitas Keperawatan: 
- Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien secara berkala 
- Menentukan kemampuan pengambilan keputusan pada pasien. 
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas, sesuai dengan kebutuhan 

5) Difisiensi pengetahuan b.d keterbatasan kognitif 

NOC: Pengetahuan: Pengendalian infeksi : tingkat pemahaman pada apa yang disampaikan. 

Tujuan/Kriterioa Hasil: 
- Menunjukkan pengetahuan: Pengendalian Infeksi: dibuktikan dengan indicator 1-5: tidak ada, terbatas, cukup, banyak, atau luas. 
- Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan yang dianjurkan. 

NIC: 
Panduan Sistem Kesehatan: memfasilitasi daerah pasien dan penggunaan layanan kesehatan yang tepat. 
Pengajaran, Proses Penyakit: Membantu pasien dalam memahami informasi yang berhubungan dengan proses timbulnya penyakit secara khusus. 
Pengajaran, Individu: Perencanaan, implementasi, dan evaluasi penyusunan program pengajaran yang dirancang untuk kebutuhan khusus pasien. 

Aktivitas Keperawatan: 
- Tentukan kebutuhan pengajaran pasien 
- Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya 
- Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi khusus 
- Berinteraksi kepada pasien dengan cara yang tidak menghakimi untuk memfasilitasi pengajaran 

6) Intoleran aktivitas b.d imobilitas 

NOC: 
- klien mentoleransikan aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan penghimatan energi, dan perawatan diri, 

Kritria evaluasi: 
- mengedentivikasikan aktivitas/situasi yang menimbulkan kecemasan 
- mengungkap secara verbal pemahaman tentang kebutuhan oksigen,pengubatan dan perawatan yang dapat meningkatkan aktivitas 
- menampilkan aktivitas kehehidupan sehari-hari (AKS) & beberapa bantuan 

NIC: 
- Terapi Aktivitas 
- Pengelolaan energi Aktivitas keperawatan: 
- Kaji respon,sosial dan spritual terhadap aktivitas 
- Tentukan penyebab keletihan 
- pantau pola istirahat klien dan lamanya waktu tidur 
- Kaloborasikan dengan ahli okupasi,fisik atau rekreasi untuk merencenakan dan memantau aktivitas,sesuai dengan kebutuhan. 

7) Defisit perawatan diri 

NOC: 
Perawatan diri : aktivitas kehidupan sehari-hari: kemampuan untuk melakukan tugas fisik paling dasar dan aktivitas perawatan pribadi 
Personal hygiene : kemampuan untuk mempertahankan hygnie dirinya 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
- Menerima bantuan / perawatan total dari pemberi perawatan 
- Mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang kebersihan tubuh dan hygine mulut. 
- Mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk kekamar mandi menyediakan perlengkapan mandi 

NIC: 
Mandi : membersihkan tubuh berguna untuk relaksasi, kebersihan dan penyembuhan 
Bantuan perawatan diri, mandi/hygine : membantu pasien untk memenuhi hygine pribadi 
Aktivitas Keperawatan 
- Kaji kemampuan untuk menggunakan alat bantu 
R: pasien dapat ber mobilitas 
- Kaji kondisi kulit saat mandi 
R: agar pasien terlihat segar 
- Ajarkan pasien/ keluarga penggunaan metode alternatif untuk mandi dan hygine mulut 
R: dibantu keluarga/ perawat utk memandikan/ diseka 
- Libatkan keluarga dalam penentuan rencana 
R : agar keluarga tetap memperhatihan hygine pasien 
 8) Risiko infeksi 

NOC: 
Status imun: Keadekuatan alami yang didapat dan secara tepat ditujukan untuk menahan antigen-antigen internal maupun eksternal. 
Pengetahuan: Pengendalian Infeksi: tingkat pemahaman mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi. 
Pengendalian resiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan akual, pribadi, serta dapat dimodifikasi. 
Deteksi Resiko: indakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi ancaman kesehatan seseorang. Tujuan/Kriteria Evaluasi: 
- Fakto resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status imun pasien. 
- Pasien menunjukkan Pengendalian Risiko. 

NIC : 
Pemberian Imunisasi/Vaksinasi: Pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit menuar. Pengendalian Infeksi: Meminimalkan penularan agen infeksius. 
Perlindungan terhadap Infeksi: Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko. Aktivitas Keperawatan: 
- Pantau tanda gejala infeksi 
- Kaji factor yang meningkatkan serangan infeksi 
- Patau hasil laboratorium 
- Amati penampilan praktik hygiene pribadi untuk perlindungan terhadap infeksi 
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan terapi antibiotic, bila diperlukan 

Daftar Pustaka 
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : EGC. 
Allih bahasa: Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Etsu Tiar. Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar