Kamis, 15 Mei 2014

Obat Kuat herbal Alami Untuk Pria

Sekarang ini banyak yang menjua obat kuat herbal, apakah ini pertanda banyak pria mengalami ejakulasi dini? Anda bisa juga kok ebuat sebuah obat alami yang diambil dari bahan-bahan tradisional. Yang khasiatnya mungkin tidak kalah dengan yang di jual di pasaran. Tapi nggak janji ya?

 Penyebabnya : Tidak normalnya fungsi pembuluh darah dan syaraf, serta
beberapa dapat disebabkan faktor psikologis atau trauma. Jika disebabkan oleh faktor psikologis atau trauma, maka obat kuat herbal tidak akan begitu berpengaruh. Jadi lebih baik kontak langsung psikiater jika sudah mengalami masalah psikologis.

Berikut beberapa resep obat kuat alami, silahkan dipakai salah satu :
1. Obat khusus kalau akan melakukan :
dibuat bubuk masing-masing 15 gram : Jintan Hitam + adas + pulosari + lada hitam + biji pronojiwo. Semua dicampurkan dalam anggue sebotol besar. Minum 1 sloki dicampur dengan 1 butir telur. Minum 1 jam sebelum berhubungan.
2. akar lalang 1 genggam , direbus dengan air 2 gelas hingga mendidih. Cabe dan lempuyang ditumbuk halus, diseduh dalam gelas dengan air rebusan lalang tadi, minum 1 x seminggu secukupnya
3. Banyak-banyak makan daun slada dan daging kambing, karena ini juga bisa membantu memulihkan syahwat
Selain ke 3 obat diatas, kami juga menemukan sumber obat kuat secara herbal untuk pria :
  • 1 Telur ayam kampung
  • 1 sendok makan kecap manis
  • 1 ons jahe / setengah gelas air jahe alami
  • 7 Butir Merica
  • 1 buah jeruk limau.
  • 3 Kuncup laos
  • 1 sendok makan madu asli
Pengolahan:
Jahe di parut kemudian diperas agar mendapat airnya (atau jika memang sudah tersedia air jahe alami abaikan proses tadi). Telur dikocok sampai rata, kemudian jeruk limau dipotong kemudian diperas dan diambil airnya.  Merica ditumbuk sampai halus kemudian dicampur dengan kecap dan madu. Lalu campurkan semua bahan tadi dan kocok. Minum sebelum memulai hubungan suami istri
Hati-hati : bagi yang lemah syahwat, jangan memakai obat luar atau obat gosok macam apapun, karena hanya akan menambah lemah alat vital kita. Pakailah vitamin E dan A.
Semua sumber obat kuat herbal dan alami diatas diambil dari berbagai sumber.

Pathway Hipertensi


Pathway Demam Typhoid


Pathway Diabetes Mellitus


Pathway Post Partum Dengan Indikasi Episiotomi


Pathway Gastritis Akut


Pathway Persalinan Normal



Minggu, 04 Mei 2014

Laporan Pendahuluan Fraktur Vertebra


A. Definisi 
Fraktur adalah diskontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan (R. Syamsuhidayat, 1997). Fraktur vertebra adalah terputusnya discus invertebralis yang berdekatan dan berbagai tingkat perpindahan fragmen tulang (Theodore, 1993). 

B. Etiologi 
Fraktur vertebra, khususnya vertebra servikalis dapat disebabkan oleh trauma hiperekstensi, hiperfleksi, ekstensi rotasi, fleksi rotasi, atau kompresi servikalis. Fraktur vertebra thorakal bagian atas dan tengah jarang terjadi, kecuali bila trauma berat atau ada osteoporosis. Karena kanalis spinal di daerah ini sempit, maka sering disertai gejala neurologis. Mekanisme trauma biasanya bersifat kompresi atau trauma langsung. Pada kompresi terjadi fraktur kompresi vertebra, tampak korpus vertebra berbentuk baji pada foto lateral. Pada trauma langsung dapat timbul fraktur pada elemen posterior vertebra, korpus vertebra dan iga di dekatnya. 

Fraktur dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu : 
1) Kecelakaan Kebanyakan fraktur terjadi karena kecelakaan lalu lintas 
2) Cidera olah raga Saat melakukan oleh raga yang berat tanpa pemanasan sehingga terjadi cidera olah raga yang menyebabkan fraktur 
3) Osteoporosis Lebih sering terjadi pada wanita usia di atas 45 tahun karena terjadi perubahan hormon menopause 
4) Malnutrisi Pada orang yang malnutrisi terjadi defsit kalsium pada tulang sehingga tulang rapuh dan sangat beresiko sekali terjadi fraktur 
5) Kecelekaan Kecerobohan di tempat kerja biasa terjadi, yang dapat menyebabkan fraktur. (Reeves, 2000) 

C. Patofisiologi 
Fraktur tulang belakang dapat terjadi di sepanjang kolumna bertebra tetapi lebih sering terjadi di daerah servikal bagian bawah dan di daerah lumbal bagian atas. Pada dislokasi akan tampak bahwa kanalis vertebralis di daerah dislokasi tersebut menjadi sempit, keadaan ini akan menimbulkan penekanan atau kompresi pada medulla spinalis atau rediks saraf spinalis. Dengan adanya penekanan atau kompresi yang berlangsung lama mengakibatkan jaringan terputus akibatnya daerah sekitar fraktur mengalami oedema / hematoma. 
Kompresi akibatnya sering menyebabkan iskemia otot. Gejala dan tanda yang menyertai peningkatan tekanan “compartmental” mencakup nyeri, kehilangan sensasi dan paralisis. Hilangnya tonjolan tulang yang normal, pemendekan atau pemanjangan tulang dan kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk (deformitas). Imobilisasi membentuk terapi awal pasien fraktur. Imobilisasi harus dicapai sebelum pasien ditransfer dan bila mungkin, bidai harus dijulurkan paling kurang satu sendi di atas dan di bawah tempat fraktur, dengan imobilisasi mengakibatkan sirkulasi darah menurun sehingga terjadi perubahan perfusi jaringan primer. (Markam, Soemarmo, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer, 2000) 

D. Pathway 
(Markam, Soemarno, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer 2000) 

E. Manifestasi Klinik 
1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi 
2) Deformitas adalah pergeseran fragmen pada fraktur 
3) Terjadi pemendekan tulang akibat kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur 4) Krepitus adalah derik tulang yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya 5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perubahan yang mengikuti fraktur. (Smeltzer, S, 2001) 

F. Komplikasi 
1) Infeksi 
2) Syok hipovolemik atau traumatic 
3) Sindrom emboli lemak 
4) Sindrom kompartemen 
5) Koagulasi intravaskuler diseminata (KID) (Smeltzer, S, 2001) 

G. Pemeriksaan Penunjang 
1) Foto Rontgen Spinal, yang memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang, atau tulang intervetebralis atau mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti tumor, osteomielitis. 
2) Elektromiografi, untuk melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal utama yang terkena. 
3) Venogram Epidural, yang dapat dilakukan di mana keakuratan dan miogram terbatas. 
4) Fungsi Lumbal, yang dapat mengkesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi adanya darah. 5) Tanda Le Seque (tes dengan mengangkat kaki lurus ke atas) untuk mendukung diagnosa awal dari herniasi discus intervertebralis ketika muncul nyeri pada kaki posterior. 
6) CT - Scan yang dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya protrusi discus intervetebralis. 
7) MRI, termasuk pemeriksaan non invasif yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat adanya herniasi discus. 
 8) Mielogram, hasilnya mungkin normal atau memperlihatkan “penyempitan” dari ruang discus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik. 

H. Penatalaksanaan 
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah tirah baring total disertai dengan fisioterapi. 

I. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 
1) Hambatan mobilitas fisik b.d ganggun musculoskeletal 

NOC: 
Menunjukkan tingkat mobilitas, ditandai dengan indikator berikut (ketergantungan(tidak berpartisipasi), membutuhkan bantuan orang lain dan alat, membutuhkan bantuan orang lain, mandiri dengan pertolongan alat bantu, atau mandiri penuh) 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
Pasien akan meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi, jika diperlukan 

NIC: 
Terapi aktivitas, ambulasi : meningkatkan dan membantu berjalan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi tubuh volunter dan autonom selama perawatan serta pemulihan dari sakit atau cedera 
Perubahan posisi : memindahkan pasien atau bagian tubuh untuk memberikan kenyamanan, menurunkan risiko kerusakan kulit, mendukung integritas kulit, dan meningkatkan penyembuhan 

Aktivitas Keperawatan: 
 - Ajarkan dan bantu pasien dalam proses perpindahan 
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu pasien akan meningkat kesembuhannya 
- Berikan penguatan positif selama aktivitas 
Rasional : Dengan penguatan positif pasien akan lebih mempunyai dorongan untuk beraktivitas 
- Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan aktivitas 
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu dapat menambah pengetahuan pasien tentang perpindahan yang benar 
- Kaji kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan 
Rasional : Dengan pengkajian itu dapat mengetahui kemampuan pasien tentang kesehatan 
- Awasi seluruh kegiatan mobilisasi dan bantu pasien, jika diperlukan 
Rasional : Agar tidak terjadi cedera pada pasien 
- Berikan analgesik sebelum memulai aktivitas 
Rasional : Mengurangi nyeri yang bisa terjadi selama pasien beraktivitas 
- Dukung pasien/keluarga untuk memandang keterbatasan dengan realistis 
Rasional : Dengan dukungan itu pasien/keluarga akan menerima dengan ikhlas 
- Letakkan tempat tidur terapeutik yang benar 
Rasional : hal yang mendukung mobilisasi pasien 
- Dukung latihan ROM aktif 
Rasional : dengan latihan itu mempercepat kesembuhan pasien khususnya dalam pergerakan sendi 
- Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal 2 jam, berdasarkan jadwal spesifik 
Rasional : membuat pasien nyaman dengan perubahan posisi 

2) Nyeri akut/kronis b.d agen cidera: fisik 

NOC: 
- Tingkat kenyamanan perasaan senang secara fisik & psikologis 
- Prilaku mengendalikan nyeri 
- Nyeri: efek merusak terhadap emosi dan prilaku yang diamati 
- Tingkat nyeri: jumlah nyeri yang dilaporkan 

Kriteria evaluasi: 
 - Menunjukkan nyeri efek merusak dengan skala 1-5: ekstrim, berat, sedang, ringan, atau tidak ada 
- Menunjukkan teknik relaksasi secara individu yang efektif 
- Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri. 

NIC: 
- Pemberian analgesik 
- Sedasi sadar 
- Penatalaksanaan nyeri 
- Bantuan Analgesika yang Dikendalikan oleh Pasien 

Aktivitas keperawatan: 
- Minta pasien untuk menilai nyeri/ ketidaknyamanan pada skala 0 sampai 10 
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif 
- Observasi isyarat ketidak nyamanan nonverbal 

3) Gangguan identitas personal b.d perubahan peran social 

NOC: Gangguan identitas personal berkurang 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
- Pasien akan mengaku terhadap perubahan aktual pada penampilan tubuh 
- Pasien akan memelihara hubungan sosial yang dekat dan hubungan personal 

NIC: 
Pencapaian Citra Tubuh : peningkatan kesadaran pasien dan ketidaksadaran persepsi dan tingkah laku terhadap tubuh pasien 
Aktivitas Keperawatan: 
- Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal pasien tentang tubuh pasien 
Rasional : Dengan mengkaji dapat mengetahui respon yang dirasakan pasien 
- Tentukan apakah perubahan fisik saat ini telah dikaitkan ke dalam citra tubuh pasien 
Rasional : Dengan menentukan hal itu dapat mengetahui perubahan apa yang terjadi pada pasien 
- Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia dari orang penting bagi pasien menyangkut citra tubuh 
Rasional : Dengan identifikasi dapat mengetahui apa yang dirasakan pasien 
- Pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri 
Rasional : mengetahui seberapa besar pasien menghargai dirinya 
- Beri dorongan kepada pasien/keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan 
Rasional : Akan membantu pasien/keluarga mengidentifikasi mekanisme yang terjadi 
- Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan martabat pasien
Rasional : Dengan cara itu pasien akan merasa terjaga privasinya 
- Tentukan harapan pasien tentang gambaran tubuh berdasarkan tahap perkembangan 
Rasional : Dengan tahu harapan pasien akan dapat mengetahui apa yang diinginkan pasien 
- Dengarkan pasien/keluarga secara aktif dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan, dan prognosis 
Rasional : Dengan menjadi pendengar yang baik dapat membina trust 

4) Ansietas b.d perubahan dalam: status kesehatan 

NOC: 
Kontrol Agresi: Kemampuan untuk menahan perilaku kekerasan, kekacauan, atau perilaku destruktif pada orang lain. 
Kontrol Ansietas: Kemampuan untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir dan tegang dari suatu sumber yang tidak dapat diidentifikasi. 
Koping: Tindakan untuk mengatasi stressor yang membebani sumber-sumber individu. 
Kontrol Impuls: Kemampuan untuk menahan diri dari perilaku kompulsif atau impulsive. 
Penahanan Mutilasi Diri: Kemampuan untuk berhenti dari tindakan yang mengakibatkan cedera diri sendiri (non-letal) yang tidak diperhatikan. 
Keterampilan Interaksi Sosial: Penggunaan diri untuk melakukan interaksi yang efektif. 
 
Tuuan/Kriteria Hasil: 
- Ansietas berkurang 
- Menunjukkan Kontrol Ansietas 

NIC: Pengurangan Ansietas: Minimalkan kekhawatiran, ketakutan, berprasangka atau rasa gelisah yang dikaitkan dengan sumber bahaya yang tidak dapat diidentifikasi dari bahaya yang dapat diantisipasi. 

Aktivitas Keperawatan: 
- Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien secara berkala 
- Menentukan kemampuan pengambilan keputusan pada pasien. 
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas, sesuai dengan kebutuhan 

5) Difisiensi pengetahuan b.d keterbatasan kognitif 

NOC: Pengetahuan: Pengendalian infeksi : tingkat pemahaman pada apa yang disampaikan. 

Tujuan/Kriterioa Hasil: 
- Menunjukkan pengetahuan: Pengendalian Infeksi: dibuktikan dengan indicator 1-5: tidak ada, terbatas, cukup, banyak, atau luas. 
- Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan yang dianjurkan. 

NIC: 
Panduan Sistem Kesehatan: memfasilitasi daerah pasien dan penggunaan layanan kesehatan yang tepat. 
Pengajaran, Proses Penyakit: Membantu pasien dalam memahami informasi yang berhubungan dengan proses timbulnya penyakit secara khusus. 
Pengajaran, Individu: Perencanaan, implementasi, dan evaluasi penyusunan program pengajaran yang dirancang untuk kebutuhan khusus pasien. 

Aktivitas Keperawatan: 
- Tentukan kebutuhan pengajaran pasien 
- Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya 
- Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi khusus 
- Berinteraksi kepada pasien dengan cara yang tidak menghakimi untuk memfasilitasi pengajaran 

6) Intoleran aktivitas b.d imobilitas 

NOC: 
- klien mentoleransikan aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan penghimatan energi, dan perawatan diri, 

Kritria evaluasi: 
- mengedentivikasikan aktivitas/situasi yang menimbulkan kecemasan 
- mengungkap secara verbal pemahaman tentang kebutuhan oksigen,pengubatan dan perawatan yang dapat meningkatkan aktivitas 
- menampilkan aktivitas kehehidupan sehari-hari (AKS) & beberapa bantuan 

NIC: 
- Terapi Aktivitas 
- Pengelolaan energi Aktivitas keperawatan: 
- Kaji respon,sosial dan spritual terhadap aktivitas 
- Tentukan penyebab keletihan 
- pantau pola istirahat klien dan lamanya waktu tidur 
- Kaloborasikan dengan ahli okupasi,fisik atau rekreasi untuk merencenakan dan memantau aktivitas,sesuai dengan kebutuhan. 

7) Defisit perawatan diri 

NOC: 
Perawatan diri : aktivitas kehidupan sehari-hari: kemampuan untuk melakukan tugas fisik paling dasar dan aktivitas perawatan pribadi 
Personal hygiene : kemampuan untuk mempertahankan hygnie dirinya 

Tujuan/Kriteria Hasil: 
- Menerima bantuan / perawatan total dari pemberi perawatan 
- Mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang kebersihan tubuh dan hygine mulut. 
- Mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk kekamar mandi menyediakan perlengkapan mandi 

NIC: 
Mandi : membersihkan tubuh berguna untuk relaksasi, kebersihan dan penyembuhan 
Bantuan perawatan diri, mandi/hygine : membantu pasien untk memenuhi hygine pribadi 
Aktivitas Keperawatan 
- Kaji kemampuan untuk menggunakan alat bantu 
R: pasien dapat ber mobilitas 
- Kaji kondisi kulit saat mandi 
R: agar pasien terlihat segar 
- Ajarkan pasien/ keluarga penggunaan metode alternatif untuk mandi dan hygine mulut 
R: dibantu keluarga/ perawat utk memandikan/ diseka 
- Libatkan keluarga dalam penentuan rencana 
R : agar keluarga tetap memperhatihan hygine pasien 
 8) Risiko infeksi 

NOC: 
Status imun: Keadekuatan alami yang didapat dan secara tepat ditujukan untuk menahan antigen-antigen internal maupun eksternal. 
Pengetahuan: Pengendalian Infeksi: tingkat pemahaman mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi. 
Pengendalian resiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan akual, pribadi, serta dapat dimodifikasi. 
Deteksi Resiko: indakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi ancaman kesehatan seseorang. Tujuan/Kriteria Evaluasi: 
- Fakto resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status imun pasien. 
- Pasien menunjukkan Pengendalian Risiko. 

NIC : 
Pemberian Imunisasi/Vaksinasi: Pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit menuar. Pengendalian Infeksi: Meminimalkan penularan agen infeksius. 
Perlindungan terhadap Infeksi: Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko. Aktivitas Keperawatan: 
- Pantau tanda gejala infeksi 
- Kaji factor yang meningkatkan serangan infeksi 
- Patau hasil laboratorium 
- Amati penampilan praktik hygiene pribadi untuk perlindungan terhadap infeksi 
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan terapi antibiotic, bila diperlukan 

Daftar Pustaka 
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : EGC. 
Allih bahasa: Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Etsu Tiar. Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta : EGC.

Laporan Pendahuluan Bayi Baru Lahir/ Neonatus




A.  Latar Belakang
Suatu karakteristik neonatus yang penting adalah mestabilitas berbagai sistem pengaturan hormonal dan neurogenik. Keadaan ini sebagian disebabkan oleh perkembangan imatur organ-organ tubuh yang berbeda dan sebagian berdasarkan kenyataan bahwa sistem pengaturan belum selesai dengan cara hidup yang baru.
Salah satu penyebab morbiditas dan mortilitas bayi baru lahir adalah infeksi serta komplikasi hiportemi. Hiportemi ini dapat menimbulkan penyakit infeksi gagal ginjal serangan apnu yang mengakibatkan kematian.
Meskipun secara keseluruhan masalah perinatal masih tinggi lebih mengingatkan kepada kita betapa pentingnya perawatan sehingga dapat memperkecil angka kematian. Perwat dapat membantu mengajarkan kepada masyarakat mengenal betapa pentingnya memperoleh perawatan secara dini dan teratur selama kehamilan, persalinan dan kelahiran.
B. Tujuan
a. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penyusunan makalah.
b. Dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada bayi baru lahir.
c. Untuk mempelajari konsep dasar tentang bayi baru lahir.
d. Untuk menjelaskan pengkajian askep bayi baru lahir.
C.  Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sebagai bahan bacaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan kebidanan.
BAB II
LANDASAN TEORI

KONSEP DASAR

Perawatan janin merupakan bagian perawatan maternal, karena janin melewati jalan lahir bagaimanapun bayi akan menjadi orang yang berdiri sendiri, membutuhkan perhatian dan supervisi individual.
Waktu kelahiaran sempurna adalah segera ketika bayi terpisah dari ibunya, tali pusat dan placenta tidak berhubungan dengan  bagian tubuh bayi sehingga posisinya tidak mempengaruhi waktu persalinan.
PENGERTIAN
Neonatus atau Bayi Baru Lahir (BBL) adalah bayi baru lahir dari usia 0-28 hari, lahir biasanya dengan usia gestasi 38 minggu sampai 42 minggu. 
Askep Neonatus atau  BBL : asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran sebagian besar bayi yang baru lahir akan menunjukkan usaha spontan dengan sedikit bantuan aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi yang baru lahir.
PENANGANAN BAYI SEGERA SETELAH LAHIR
-          Secara cepat menilai pernapasannya letakkan bayi dengan handuk di atas perut ibu.
Kain bersih dan kering atau kasa lap darah atau lendir dari wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang pernapasan bayi.
Keringkan badan bayi dan cairan ketuban dengan handuk atau kain yang halus dan lembut . Bila bayi tersebut menangis atau bernapas biarkan bayi tersebut dengan ibunya.
-          Bila bayi tersebut tidak benapas 30 detik segera lakukan bantuan resusitasi.
-          Menilai apgar 1 menit pertama untuk menentukan ada tidaknya asfiksia.
-          Pertolongan tali pusat  klem dan potong tali pusat. Klemlah tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3 cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira satu cm di antara klem-klem tersebut). Potonglah tali pusat di antara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri anda. Pertahankan kebersihan pada saat memotong  tali pusat. Ganti sarung tangan anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan pisau atau gunting yang steril atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT). Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan, lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat.
-           Sambil menunggu penilaian apgar 5 menit berikut lakukan pemeriksaan ada tidaknya cacat bawaan atau trauma lahir.
-          Bila nilai apgar 5 menit sama atau lebih besar bayi dapat direncanakan untuk rawat gabung.
-          Bungkus bayi dengan kain termasuk kepalanya.
PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR
Pemeriksaan Fisik
Niai Apgar :
Tanda
0
1
2
Appereance Warna Kulit
Biru, Pucat
Badan Merah ,
Ekst. Biru
Semua Merah
Pulse Denyut Jantung
Tidak ada
< 100
> 100
Grimace refleks
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik
Menangis kuat
Activity tonus otot
Lemas
Ada refleksi Ekstremitas
Gerakan aktif
Respiration effort usaha napas
Tidak ada
Lambat/ tidak teratur
Baik/ menangis
Penilaiannya :
v  Asfiksia berat (nilai apgar 0 – 3)
      Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali
v  Asfiksia ringan/ sedang ( nilai apgar 4 – 6 ).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas normal kembali.
v  Bayi normal  (nilai apgar 7 – 10).
♦ Berat Lahir      :  2.500 – 4.000 gram
♦ Kepala             : - ukuran lingkar kepala 31 – 35 cm
                  - terdapat kaput suksedaneum
♦ Mata                : - tertutup rapat
- bila terbuka mungkin agak juling
♦ Hidung            :     batang hidung menonjol
♦ Mulut              : - refleks mengisap sudah baik
- memalingkan kepala jika pipi disentuh
♦ Leher               :  bayi tidak dapat mengangkat kepalanya
♦ Dada               :  -    dada bergerak simetris
-          bentuk
-          putting
-          bunyi nafas
-          bunyi jantung
♦ Perut                :  - ukuran lingkar perut lebih besar sedikit dari lingkar dada
- perut lembek dan bundar
♦ Pemeriksaan Refleks :
-          Refleks morro : bila posisi bayi dirubah secara tiba-tiba atau mendengar suara yang keras, maka bayi akan menarik kedua tangan dan kedua kaki mendekat ke tubuhnya serta ibu jari dan telunjuk akan membentuk huruf C kemudian kembali lagi seperti semula. Refleksinya berkurang usia 4 bulan dan menghilang pada usia 6 bulan.
-          Refleks rooting dan sucking : bila pipi dan sudut mulut bayi disentuh dengan ujung jari atau putting susu, bayi akan menoleh kearah sentuhan, lalu membuka mulut dan mulai mengisap. Refleks ini berkurang pada usia 6 bulan dan hilang pada usia 1 tahun.
-          Swallowing : beri cairan atau basahi lidah maka  bayi akan menelang sambil menghisap. Refleks ini selalu ada dan tidak hilang.
-          Stepping : bila bayi diberdirikan dengan bantuan dan telapak kakinya didatarkan maka secara otomatis bayi akan melangkah. Refleks ini hilang pada usia 1 sampai 2 bulan.
-          Palmar Graps : diletakkan jari pada telapak tangan bayi, maka bayi akan menggenggan dengan kuat. Refleks ini akan berkurang pada usia 4 bulan.
-          Babinski : Refleks babinski akan hilang pada usia 1 tahun.
  Alat Kelamin :  - pada bayi laki teraba buah zakar
- testis berada dalam skrotum
- penis berlubang
- pada bayi perempuan hymen sering tertutup
- uretra berlubang
- labia minor dan labia mayor
♦ Dubur               :    dubur berlubang
♦ Anggota Gerak : -    semua anggota gerak dapat bergerak bebas
-          gerakan normal
-          jumlah jari
♦ Kulit                :  -    verniks
-          warna
-          pembengkakan atau bercak-bercak hitam
-          tanda-tanda lahir
♦ Mekonium      :  keluar dalam 24 jam pertama. Hari I : bergumpal seperti   lendir kental keabu-abuan sepanjang 2-5 cm, frekuensi = 1-2 kali.
PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
a.  Perawatan 1 jam Bayi Baru Lahir :
Memantau tanda vital bayi baru lahir dengan jantung, frekuensi pernapasan, suhu tubuh.
Melaksanakan rawat gabung
Mempertahankan suhu tubuh optimal (36-370 C)
Memberikan kolostrum dan ASI :
-    Menggunakan kedua payudara (kiri dan kanan) secara bergantian
-    ASI diberikan menurut kebutuhan bayi (ondemand)
-    Memeperhatikan ibu tentang keadaan umum bagi bayi lahir : kesadaran bayi, warna kulit dan tinja.
Mekonium :
-    Hari 1-3 : kental, hitam, melekar seperti : air frekuensi 4-5 kali.
-    Hari 3-5 : agak encer (seperti ingus) dengan sedikit makanan yang tidak dicerna, warna hijau-sawo matang frekuensi 1-6 kali.
-    Hari 4-5 : warna merah kuning seperti emas lemas seperti tepung (bila minum asi).
             b.  Perawatan setelah 24 jam
   ● lakukan perawatan tali pusat :
-    Pertahankan sisi tali pusat dalam keadaan terbuka gar terkena udara dan tutupi dengan kain bersih secara longgar;
-    Lipatlah popok di bawah sisa tali pusat;
-    Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja, cuci dengan sabun dan air bersih, dan keringkan betu-betul.
● Dalam waktu 24 jam dan sebelum ibu dan bayi dipulangkan ke rumah, berikan imunisasi – BCG, polio oral, dan hepatitis B.
● Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua dan beritahu orang tua agar merujuk bayi segera untuk perawatan lebih lanjut, jika ditemui tanda-tanda tersebut.
● Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi mereka dan perawatan harian untuk bayi baru lahir :
-    Beri ASI sesuai dengan kebutuhan  setiap 2-3 jam (paling sedikit setiap 4 jam), mulai dari hari pertama.
-    Pertahankan agar bayi selalu denga ibu.
-    Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering, dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan. Pastikan bayi tidak terlalu panas dan terlalu dingin (dapat menyebabkan dehidrasi. Ingat bahwa kemampuan pengaturan suhu bayi masih dalam perkembangan). Apa saja yang dimasukkan ke dalam mulut bayi harus bersih.
-    Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering.
-    Peganglah, sayangi dan nikmati kehidupan bersama bayi.
-    Awasi masalah dan kesulitan pada bayi dan minta bantuan jika perlu.
-    Jaga keamanan bayi terhadap trauma dan penyakit / infeksi.
-    Ukur suhu tubuh bayi jika tampak sakit atau menyusu kurang baik.
-    Berikan vitamin K
   Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir, lakukan hal-hal berikut :
-    semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selam tiga hari,
-    bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg I.M.
F. IDENTIFIKASI BAYI
Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu dipasang segera pascapersalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
        Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek, dan tidak mudah lepas.
        Pada alat / gelang identifikasi harus tercantum :
-          nama (bayi, ibunya),
-          tanggal lahir,
-          nomor bayi,
-          jenis kelamin,
-          unit.
        Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi.
        Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan yang tidak mudah hilang. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan catat dalam rekam medis.

Laporan Pendahuluan Kista Ovarium

A.    DEFINISI
 §  Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).
 §  Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair (Soemadi, 2006).
 §  Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly, 2008).
 §  Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005)
B.     JENIS - JENIS KISTA OVARIUM
Menurut etiologi, kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Kista non neoplasma. Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan progresterone diantaranya adalah :
§  Kista non fungsional. Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam korteks.
§  Kista fungsional
o    Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
o    Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah ovulasi.
o    Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
o    Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.
  1. Kista neoplasma
§  Kistoma ovarii simpleks adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
§  Kistodenoma ovarii musinoum. Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen mengalahkan elemen yang lain
§  Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium)
§  Kista Endrometreid. Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
§  Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis
C.    ETIOLOGI
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium,tipe folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Padakeadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasiuntuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista.Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibatdari perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi.Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.
D.    PATHWAY DAN PATOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan menjadi problem utama dan diskusi tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.


Pathway
Pathway Kista  Ovarium
E.     TANDA DAN GEJALA
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila anda mempunyai kista ovarium :
  1. Perut terasa penuh, berat, kembung
  2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
  3. Haid tidak teratur
  4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha.
  5. Nyeri sanggama
  6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.

Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
  1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
  2. Nyeri bersamaan dengan demam
  3. Rasa ingin muntah
Laporan Pendahuluan Kista Ovarium
Kista Ovarium
F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
           Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
     1.      Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
     2.      Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi.
     3.      Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.
G.    PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan kiste ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau fisiologis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kiste.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan abdomen. Penurukan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemakaian gurita abdomen yang ketat.
H.    PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama dengan yang lainnya. Perbedaan terjadi menurut waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi jaringan.
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
     1.      Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk fibrin yang menumpuk mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu menutupi luka, kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
     2.      Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai kolagen serabut protein putih semua lapisan sel epitel bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat dan liasanya bedah.
     3.      Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga enam post operasi, pasien harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
     4.      Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh, gatal disekitar luka, walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis putih.
I.       KOMPLIKASI
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
J.      PENGAKAJIAN KEPERAWATAN
     1.      Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
     2.      Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
     3.      Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
b.      Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
d.      Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya kista ovarium.
    4.      Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi untuk tumbuh/tidaknya suatu kista  ovarium.
    5.      Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan sampai amenorhea.
    6.      Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a.       Kepala
1)      Hygiene rambut
2)      Keadaan rambut
b.      Mata
1)      Sklera                  : ikterik/tidak
2)      Konjungtiva        : anemis/tidak
3)      Mata                    : simetris/tidak
c.       Leher
1)      pembengkakan kelenjer tyroid
2)      Tekanan vena jugolaris.
d.      Dada
Pernapasan
1)      Jenis pernapasan
2)      Bunyi napas
3)      Penarikan sela iga
e.       Abdomen
1)      Nyeri tekan pada abdomen.
2)      Teraba massa pada abdomen.
f.       Ekstremitas
1)      Nyeri panggul saat beraktivitas.
2)      Tidak ada kelemahan.
g.      Eliminasi, urinasi
1)      Adanya konstipasi
2)      Susah BAK
     7.      Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan berbagai tingkat umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
     8.      Data Spritual
Klien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan kepercayaannya.
     9.      Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium tersebut sementara pada klien dengan kista ovarium yang ovariumnya diangkat maka hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil/punya keturunan.
     10.  Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
     11.  Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium
a.       Pemeriksaan Hb
b.      Ultrasonografi
Untuk mengetahui letak batas kista.
K.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
            1.      Preoperasi
a.       Nyeri kronis b/d ageninjuri biologi
b.      Cemas b/d diagnosis dan rencana pembedahan
c.       PK perdarahan
           2.      Post operasi
a.       Nyeri akut b/d agen injuri fisik
b.      Resiko infeksi b/d tindakan invasif dan pembedahan
c.       Deficit perawatan diri b.d imobilitas (nyeri paska pembedahan)

L.     RENCANA KEPERAWATAN
Pre Operasi



 

RENCANA KEPERAWATAN
NO
DIANGOSA KEPERAWATAN DAN KOLABORASI

TUJUAN (NOC)

INTERVENSI (NIC)
1.
Nyeri akut b.d agen injuri biologi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang
NOC :
v  Pain Level,
v  Pain control,
v  Comfort level
Kriteria Hasil :
v  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v  Tanda vital dalam rentang normal

Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
§  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
§  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
§  Kurangi faktor presipitasi nyeri
§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
§  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
§  Tingkatkan istirahat
§  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
2.
Kecemasan bd diagnosis dan pembedahan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam diharapakan cemasi terkontrol
NOC :
v  Anxiety control
v  Coping
Kriteria Hasil :
v  Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
v  Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas
v  Vital sign dalam batas normal
v  Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan
NIC :
Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
·         Gunakan pendekatan yang menenangkan
·         Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
·         Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
·         Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
·         Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
·         Dorong keluarga untuk menemani anak
·         Lakukan back / neck rub
·         Dengarkan dengan penuh perhatian
·         Identifikasi tingkat kecemasan
·         Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
·         Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
·         Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
·         Barikan obat untuk mengurangi kecemasan
3.
PK: Perdarahan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan pasien menunjukkan perdarahan dapat diminimalkan
·         Monitor tanda-tanda perdarahan gastrointestinal
·         Awasi petheciae, ekimosis, perdarahan dari suatu tempat
·         Monitor vital sign
·         Catat perubahan mental
·         Hindari aspirin
·         Awasi HB dan factor pembekuan
·         Berikan vitamin tambahan dan pelunan feses
Post Operasi



 

RENCANA KEPERAWATAN
NO
DIANGOSA KEPERAWATAN DAN KOLABORASI

TUJUAN (NOC)

INTERVENSI (NIC)
1.
Nyeri akut b.d agen injuri fisik
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang
NOC :
v  Pain Level,
v  Pain control,
v  Comfort level
Kriteria Hasil :
v  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v  Tanda vital dalam rentang normal

Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
§  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
§  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
§  Kurangi faktor presipitasi nyeri
§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
§  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
§  Tingkatkan istirahat
§  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
2.
Resiko infeksi b.d penurunan pertahanan primer
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam diharapakan infeksi terkontrol
NOC :
v  Immune Status
v  Knowledge : Infection control
v  Risk control
Kriteria Hasil :
v  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
v  Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
v  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v  Jumlah leukosit dalam batas normal
v  Menunjukkan perilaku hidup sehat
Infection Control (Kontrol infeksi)
·         Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
·         Pertahankan teknik isolasi
·         Batasi pengunjung bila perlu
·         Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
·         Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
·         Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
·         Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
·         Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
·         Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
·         Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
·         Tingktkan intake nutrisi
·         Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
·         Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
·         Monitor hitung granulosit, WBC
·         Monitor kerentanan terhadap infeksi
·         Batasi pengunjung
·         Saring pengunjung terhadap penyakit menular
·         Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
·         Pertahankan teknik isolasi k/p
·         Berikan perawatan kuliat pada area epidema
·         Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
·         Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
·         Dorong masukkan nutrisi yang cukup
·         Dorong masukan cairan
·         Dorong istirahat
·         Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
·         Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
·         Ajarkan cara menghindari infeksi
·         Laporkan kecurigaan infeksi
·         Laporkan kultur positif
3.
Deficit personal hyegene b.d imobilitas (nyeri pembedahan)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan pasien menunjukkan kebersihan diri
NOC :
v  Kowlwdge : disease process
v  Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
v  Pasien bebas dari bau
v  Pasien tampak menunjukkan kebersihan
v  Pasien nyaman
Personal hyegene managemen
·         Kaji keterbatasan pasien dalam perawatan diri
·         Berikan kenyamanan pada pasien dengan membersihkan tubuh pasien (oral,tubuh,genital)
·         Ajarkan kepada pasien pentingnya menjaga kebersihan diri
·         Ajarkan kepada keluarga pasien dalam menjaga kebersihan pasien

DAFTAR PUSTAKA
A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Lowdermil, Perta. 2005. Maternity Women’s Health Care. Seventh edit.
Mansjoer, Arief dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus.
Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of America:Mosby.
Meidian, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. 2005. American College of Obstetricians and Gynecologists ( cited 2005 September 16 ). Available at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.